Makna Tradisi Baparang Bagi Masyarakat dalam Kelahiran Anak Kembar Sepasang Laki-Laki Perempuan di Nagari Padang Panjang Dua Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan

Meli Permata Sari(1), Nilda Elfemi(2), Yanti Sri Wahyuni(3),


(1) Universitas PGRI Sumatera Barat
(2) Universitas PGRI Sumatera Barat
(3) Universitas PGRI Sumatera Barat
Corresponding Author

Abstract


Abstrak

Kebudayaan keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Hal tersebut berarti bahwa hampir seluruh tindakan manusia adalah kebudayaannya karena hanya sedikit tindakan manusia dalam kehidupan masyarakat yang tidak perlu di biasakan dengan belajar. Persiapan acara induk sudah dimusyawarakan oleh induak bako sebelum induak bako dbako atang kerumah keluarga anak kembar dan telah disepakati oleh keluarga sianak. Setelah disepakati hari acaranya, induak bako mulai mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan perlengkapan yang akan deperlukan untuk acara baparang tersebut dan anak kembar yang akan diparangkan berkisar berusia 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahunnya. Persiapan dari pihak keluarga si anak hanya mempersiapkan makanan untuk para pihak induak bako. Proses acara baparang dilakukan dengan bentuk pelemparan, bahan yang digunakan bserupa: telur, buah-buahan, pisang yang sudah direbus, dan lainnya. Sambil dalam pelemparan bahan makanan tersebut beriringan dengan melontarkan berupa kata-kata yang mengandung arti atau makna tersendiri bagi dirinya. Dilihat dari masa dulu dengan masa sekarang tradisi baparang telah mengalami perubahan yang sangat jauh, karena masyarakat menyadari dari tindakan yang dilakukan selama ini kurang baik, seperti mengeluarkan kata-kata kotor yang tidak sepantasnya didengar oleh masyarakat, tetapi sekarang tidak lagi. Dengan adanya perubahan dalam tradisi baparang ini yang semulanya tindakan atau sikap yang ditunjukkan oleh induak bako dari sang anak kurang diterima oleh masyarakat tetapi sekarang sudah dapat dinikmati oleh semua masyarakat 1) Deskripsi Tradisi Baparang, 2) Persiapan Acara Tradisi Baparang 3) Sejarah Tradisi Baparang Tradisi merupakan kesamaan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun masih ada hingga kini dan belum di hancurkan atau dirusak. Tradisi dapat diartikan sebagai warisan yang benar atau warisan masa lalu

Kata kunci: Makna, Tradisi, Baparang

 

Abstract

Culture is the whole system of ideas, actions and human works in the life of society that are made into human beings by learning. This means that almost all human actions are cultural because only a few human actions in people's lives do not need to be accustomed to learning. Preparations for the main event have been discussed by the bako parent before the bako master dbako atang is at the house of the twins' family and has been agreed upon by the sianak's family. After the agreed date for the event, the bako mother begins to prepare everything related to the equipment that will be needed for the baparang event and the twins who will be paraded are around 1 (one) year old or 2 (two) years old. Preparations from the child's family only prepare food for the parents of bako. The process of the baparang event is carried out in the form of throwing, the materials used are similar: eggs, fruits, boiled bananas, and others. While throwing the food ingredients in tandem with throwing in the form of words that contain its own meaning or meaning for him. Judging from the past to the present, the baparang tradition has undergone very far changes, because people are aware of the actions taken so far that are not good, such as issuing dirty words that are not appropriate for the public to hear, but not anymore. With this change in the baparang tradition, initially the actions or attitudes shown by the mother of the bako from the child were not accepted by the community but now it can be enjoyed by all people 1) Description of the Ayahrang Tradition, 2) Preparation of the Papang-Bako Tradition 3) History of the Ayahrang Tradition Tradition is the similarity of material objects and ideas that originate from the past but still exist today and have not been destroyed or damaged. Tradition can be interpreted as true inheritance or legacy of the past.

Keywords: Meaning, Tradition, Parang


Keywords


Meaning, Tradition, Parang

References


DAFTAR PUSTAKA

Merdiyatna, Y. Y. (2019). Nilai-Nilai Budaya dalam Cerita Rakyat Panjalu. Bahastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 4(1), 143-148.

Priambadi, K., & Nurcahyo, A. (2018). Tradisi Jamasan Pusaka Di Desa Baosan Kidul Kabupaten Ponorogo (Kajian Nilai Budaya Dan Sumber Pembelajaran Sejarah). Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya, 8(2), 211-220.

Rahardjo, M. (2011). Metode pengumpulan data penelitian kualitatif.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

Tri, Y. (2017). Penyampaian pesan komunikasi dakwah dalam film Alangkah Lucunya Negeri Ini (Doctoral dissertation, IAIN Ponorogo).


Full Text: PDF (114-118)

Article Metrics

Abstract View : 183 times
PDF (114-118) Download : 73 times

DOI: 10.57235/jetish.v1i1.75

DOI (PDF (114-118)): https://doi.org/10.57235/jetish.v1i1.75.g69

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2022 Meli Permata Sari, Nilda Elfemi, Yanti Sri Wahyuni

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.