Estetika Horor dan Dekonstruksi Rezim Visual: Membedah Dialektika Teologi dalam Film Siksa Kubur melalui Perspektif Annette Kuhn

Authors

  • Nova Prihatina Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia
  • Akbar Kurnia Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia
  • Asep Iwan Setiawan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.57235/jetish.v5i2.8750

Keywords:

Annette Kuhn, Siksa Kubur, Representasi Visual, Eskatologi, Dakwah Media

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi pergeseran paradigma dakwah dari dimensi tekstual-oral ke dominasi rezim visual dalam lanskap media kontemporer, dengan mengambil film Siksa Kubur (2024) karya Joko Anwar sebagai objek analisis. Menggunakan kerangka pemikiran Annette Kuhn dalam The Power of the Image (1985) yang diintegrasikan dengan epistemologi dakwah Islam, penelitian ini mendekonstruksi bagaimana citra visual merekonstruksi konsep eskatologi Islam yang bersifat ghaib menjadi fenomena empiris-sensorik. Pendekatan yang digunakan adalah analisis wacana kritis (critical discourse analysis) dengan perspektif sinematik-teologis. Hasil analisis menunjukkan tiga temuan utama: pertama, mekanisme rekonstruksi realitas ghaib ke empiris melalui sinematografi klaustrofobik; kedua, sensor sebagai produksi makna dan manifestasi kaidah Sadd adz-Dzari'ah; ketiga, krisis politik tatapan (the gaze) yang berbenturan dengan etika representasi Islam yakni Ghadul Bashar dan Hifzh al-Din. Artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi nilai Ihsan dan etika representasi profetik diperlukan untuk mentransformasi kekuatan citra menjadi wasilah dakwah yang membebaskan, bukan sekadar fetisisme religi yang tunduk pada logika komodifikasi pasar.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Aini, S. M. Q., & Hidayat, D. R. (2022). Politik sensor film keagamaan di Indonesia: Antara regulasi negara dan otoritas ulama. Jurnal Komunikasi Islam, 12(1), 45–68.

Al-Faruqi, I. R. (1992). Al-Tawhid: Its Implications for Thought and Life (2nd ed.). International Institute of Islamic Thought.

Al-Ghazali, A. H. M. (1997). Ihya' Ulum al-Din (Jilid IV). Dar al-Ma'rifah. (Karya asli ditulis sekitar 1095–1096 M).

Al-Qarafi, A. I. (1998). Al-Furuq (Juz II). Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Al-Qaradawi, Y. (2001). Fiqh al-Awlawiyyat: Dirasah Jadidah fi Dhaw al-Qur'an wa al-Sunnah. Maktabah Wahbah.

Al-Qurtubi, M. A. (2012). Al-Tadhkirah fi Ahwal al-Mawta wa Umur al-Akhirah. Dar al-Minhaj.

Al-Yubi, M. S. (1998). Maqashid al-Syari'ah al-Islamiyyah wa 'Alaqatuha bi al-Adillah al-Syar'iyyah. Dar al-Hijrah.

Althusser, L. (1971). Lenin and Philosophy and Other Essays (B. Brewster, Trans.). Monthly Review Press.

Azra, A. (2016). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Kencana Prenada Media.

Baudrillard, J. (1994). Simulacra and Simulation (S. F. Glaser, Trans.). University of Michigan Press.

Beaty, R. E., & Schacter, D. L. (2011). Episodic future thinking and creativity. Psychological Bulletin, 137(2), 245–267.

Brehm, J. W. (1966). A Theory of Psychological Reactance. Academic Press.

Debord, G. (1994). The Society of the Spectacle (D. Nicholson-Smith, Trans.). Zone Books.

Fairclough, N. (2010). Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language (2nd ed.). Pearson Education.

Fatoni, U. (2020). Dakwah Digital: Teori dan Praktik Komunikasi Islam di Era Media Baru. Simbiosa Rekatama Media.

Hall, S. (1980). Encoding/Decoding. Dalam S. Hall et al. (Eds.), Culture, Media, Language (hlm. 128–138). Hutchinson.

Hidayat, K. (2018). Psikologi Beragama: Menjadikan Hidup Lebih Nyaman dan Santun. Mizan.

Hjarvard, S. (2008). The Mediatization of Religion. Northern Lights: Film and Media Studies Yearbook, 6(1), 9–26.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah. (2009). Kitab al-Ruh. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

Joko Anwar (Sutradara). (2024). Siksa Kubur [Film]. Rapi Films; Come and See Pictures.

Kuhn, A. (1985). The Power of the Image: Essays on Representation and Sexuality. Routledge & Kegan Paul.

Morgan, D. (2012). The Embodied Eye: Religious Visual Culture and the Social Life of Feeling. University of California Press.

Morley, D. (1980). The Nationwide Audience: Structure and Decoding. British Film Institute.

Mowlana, H. (1996). Global Communication in Transition. SAGE Publications.

Muhtadi, A. S. (2012). Komunikasi Dakwah: Teori, Pendekatan, dan Aplikasi. Simbiosa Rekatama Media.

Mulvey, L. (1975). Visual Pleasure and Narrative Cinema. Screen, 16(3), 6–18.

Mursyidah, D., & Habibi, N. (2024). Komodifikasi agama dalam industri film horor Indonesia: Analisis wacana kritis terhadap film-film Joko Anwar. Jurnal Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati, 14(2), 112–131.

Nurfiani, R., & Muhtadi, A. S. (2023). Estetika Islam dan etika representasi visual dalam konten dakwah digital. Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan, 27(1), 77–99.

Rahma, A., & Ilaihi, W. (2022). Representasi nilai keislaman dalam film horor religi Indonesia. Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 7(2), 145–164.

Stokes, J. (2003). How to Do Media and Cultural Studies. SAGE Publications.

Van Dijk, T. A. (1993). Principles of Critical Discourse Analysis. Discourse & Society, 4(2), 249–283.

Van Zoonen, L. (2005). Entertaining the Citizen: When Politics and Popular Culture Converge. Rowman & Littlefield.

Wibisono, M. Y., & AS, E. (2023). Dakwah melalui medium film: Konstruksi pesan moral dalam sinema religi pascapandemi. Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam, 20(1), 55–74.

Zarkasyi, H. F., & Husaini, A. (2022). Westernisasi epistemologi dalam kajian media Islam Indonesia: Kritik dan alternatif. ISLAMIA: Jurnal Pemikiran Islam Republika, 18(1), 23–46.

Downloads

Published

2026-07-16

Citation Check