Pengaruh Drain Fueling After Remain Over Night Terhadap Pertumbuhan Mikroba Boeing 737-8 MAX

Authors

  • Muhammad Rafli Politeknik Penerbangan Indonesia Curug
  • Wahyu Cakra Nugraha Politeknik Penerbangan Indonesia Curug, Indonesia
  • Dody Herdianto Politeknik Penerbangan Indonesia Curug, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.57235/jetish.v5i2.9186

Keywords:

Boeing 737-8 MAX, Drain Fueling, Remain Over Night (RON), Hormoconis resinae, MicrobMonitor2, Kontaminasi Mikroba

Abstract

Keandalan sistem bahan bakar pada pesawat terbang modern, khususnya Boeing 737-8 MAX, sangat bergantung pada ketepatan prosedur pemeliharaan preventif yang dilakukan. Salah satu tantangan teknis yang krusial dalam operasional harian adalah potensi kontaminasi mikrobiologi yang dipicu oleh akumulasi air bebas di dalam tangki bahan bakar. Fenomena ini sering kali terjadi ketika pesawat mengalami fase Remain Over Night (RON), di mana durasi parkir yang panjang memungkinkan terjadinya proses kondensasi akibat fluktuasi suhu lingkungan, yang secara termodinamika mengubah uap air di ruang tangki menjadi tetesan air bebas (free water). Air bebas inilah yang menjadi media utama bagi pertumbuhan mikroorganisme patogen, terutama jamur Hormoconis resinae, yang dikenal sebagai jamur bahan bakar jet karena kemampuannya memproduksi asam organik yang memicu korosi struktur tangki aluminium dan membentuk lapisan lendir (slime mats) yang dapat menyumbat filter bahan bakar. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi secara mendalam efektivitas prosedur drain fueling harian dalam mereduksi penumpukan air kondensasi serta menekan pertumbuhan koloni mikroba pada armada Boeing 737-8 MAX milik PT. Airfast Indonesia. Metode penelitian yang diterapkan adalah eksperimen kuantitatif dengan pendekatan komparatif, menggunakan alat uji MicrobMonitor2 untuk menghitung secara presisi jumlah Colony Forming Units (CFU) dalam sampel bahan bakar. Penelitian ini membagi subjek observasi ke dalam dua kelompok perlakuan: kelompok pertama sebagai kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan drainase rutin pasca RON, dan kelompok kedua sebagai variabel uji yang mendapatkan prosedur drainase secara terjadwal setiap hari pasca fase RON. Pengambilan sampel dilakukan pada enam titik observasi dengan masa inkubasi media gel selama empat hari untuk mendapatkan data populasi mikroba yang valid dan akurat. Hasil analisis data menunjukkan perbedaan tingkat kontaminasi yang sangat drastis dan signifikan secara statistik antara kedua kelompok perlakuan. Kelompok pertama yang tidak mendapatkan intervensi drainase menunjukkan indikasi proliferasi mikroba yang sangat berat, dengan estimasi tingkat kontaminasi mencapai nilai ≥ 10⁵ - 10⁶ CFU/L. Tingkat ini jauh melampaui ambang batas toleransi operasional, sehingga menempatkan bahan bakar pada status kontaminasi “Heavy” atau berat, yang secara teknis mewajibkan tindakan korektif segera melalui aplikasi biocide dan inspeksi visual menyeluruh ke dalam tangki bahan bakar guna mencegah kerusakan struktural lebih lanjut. Sebaliknya, hasil pengujian pada kelompok kedua yang disiplin menerapkan prosedur drain fueling harian pasca fase RON menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Observasi visual konsisten menunjukkan ketiadaan pertumbuhan koloni yang signifikan, dengan estimasi tingkat kontaminasi berhasil ditekan hingga berada di level terendah, yaitu < 2.000 CFU/L. Data ini mengonfirmasi bahwa status kontaminasi bahan bakar pada kelompok tersebut tetap terjaga pada kategori “Negligible” atau aman, sesuai dengan standar operasional yang ditetapkan oleh Aircraft Maintenance Manual (AMM) serta pedoman International Air Transport Association (IATA). Kesimpulan akhir dari penelitian ini menegaskan bahwa prosedur drain fueling harian pasca fase RON bukan sekadar rutinitas pemeliharaan, melainkan mitigasi primer yang sangat efektif untuk memutus siklus pertumbuhan mikroorganisme di lingkungan tangki bahan bakar. Konsistensi dalam pelaksanaan prosedur ini terbukti secara empiris mampu menjaga integritas struktural tangki, mencegah potensi Microbiologically Influenced Corrosion (MIC), dan memastikan keandalan sistem bahan bakar yang sangat krusial bagi keselamatan penerbangan. Penelitian ini merekomendasikan pengetatan prosedur pengawasan harian dan edukasi sterilitas bagi personel teknisi untuk memastikan efektivitas pemeliharaan yang berkesinambungan.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Boeing Commercial Airplanes. (2019). 737 MAX Airplane Characteristics for Airport Planning D6-384004 Rev E.

Hu, D., Lin, W., Zeng, J., Wu, P., Zhang, M., Guo, L., Ye, C., Wan, K., & Yu, X. (2019). Profiling the microbial contamination in aviation fuel from an airport. Biofouling, 35(8), 856–869. https:// doi.org/10.1080/08927014.2019.1671977

Hu, D., Zeng, J., Wu, S., Li, X., Ye, C., Lin, W., & Yu, X. (2020). A survey of microbial contamination in aviation fuel from aircraft fuel tanks. Folia Microbiologica, 65(2), 371–380. https://doi.org/ 10.1007/s12223-019-00744-w

Lu, B., Zhang, Y., Guo, D., Li, Y., Zhang, R., Cui, N., & Duan, J. (2024). How Often Should Microbial Contamination Be Detected in Aircraft Fuel Systems? An Experimental Test of Aluminum Alloy Corrosion Induced by Sulfate-Reducing Bacteria. Materials, 17(14). https://doi.org/10.3390/ ma17143523

Matvyeyeva, O., Vovk, Y., & Nilow, O. (2021). Microbiological Contamination of Motor Fuels: Analysis and Identification In Fuelling Companies. Proceedings of the National Aviation University, 86(1), 49–

56. https://doi.org/10.18372/2306-1472.86.15444

Pruski, D., & Sprynskyy, M. (2024). Jet Fuel Contamination: Forms, Impact, Control, and Prevention.

Energies, 17(17). https://doi.org/10.3390/en17174267

Downloads

Published

2026-09-03

Citation Check