Negosisasi Makna Budaya Dalam Tradisi Peh Cun: Studi Komunikasi Antar Budaya Tionghoa Benteng di Tangerang
DOI:
https://doi.org/10.57235/jetish.v5i2.9189Keywords:
Komunikasi Antarbudaya; Negosiasi Makna; Tradisi Peh Cun; Tionghoa Benteng; Etnografi.Abstract
Kajian mengenai tradisi Peh Cun pada masyarakat Tionghoa Benteng di Sungai Cisadane, Tangerang, sejauh ini masih terbatas pada aspek simbolis, historis, dan pelestarian ritual semata. Terdapat kesenjangan akademis mengenai bagaimana nilai dan simbol tradisi tersebut dikomunikasikan, ditafsirkan, serta dinegosiasikan oleh para aktor dari latar belakang etnis dan agama yang berbeda di tengah lingkungan masyarakat yang makin multicultural Keberlangsungan tradisi lokal di tengah masyarakat majemuk tidak hanya bergantung pada pewarisan internal, melainkan pada kemampuan tradisi tersebut untuk beradaptasi, berinteraksi, dan memperoleh pemaknaan bersama dalam ruang perjumpaan lintas budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk komunikasi antarbudaya, pemaknaan simbol/praktik tradisi, serta proses negosiasi dan pemaknaan kembali tradisi Peh Cun antara masyarakat Tionghoa Benteng dan warga lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Etnografi dipilih karena mampu menguraikan secara mendalam (thick description) praktik komunikasi, sistem simbol, interaksi ritual, dan konteks alamiah kehidupan sosial masyarakat Tionghoa Benteng di lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap 6 informan kunci (sesepuh adat, panitia, pendayung, generasi muda, dan warga non-Tionghoa), serta dokumentasi. Temuan menunjukkan bahwa Peh Cun berfungsi sebagai arena perjumpaan antarbudaya (cross-cultural encounter space) melalui saluran komunikasi taktis kinesik (tambur perahu naga), komunikasi organisasional, silaturahmi komunal (hantaran bacang), media digital, serta interaksi publik yang inklusif (Lomba Tangkap Bebek). Simbol-simbol tradisi memiliki makna ganda (multi-layered), yakni makna sakral transendental bagi warga Tionghoa Benteng (emic) dan makna sosial hiburan yang mempererat toleransi bagi warga non-Tionghoa (etic). Negosiasi makna berlangsung seimbang melalui strategi pemertahanan pakem sakral (retention), penyesuaian tata kelola formal (adaptation), penterjemahan budaya digital oleh generasi muda, serta penguatan inklusivitas Pelestarian tradisi Peh Cun tidak dicapai melalui pemeliharaan bentuk ritual yang kaku atau tertutup, melainkan melalui konsep “Negosiasi Makna Budaya Berbasis Perjumpaan Antarbudaya”, di mana nilai inti (core value) sakral tetap dipertahankan sementara strategi komunikasinya disesuaikan secara dinamis bersama masyarakat multikultural.
Downloads
References
Ali, M., Arifin, W. L., & Muttaqin, Z. (2022). Having the first-year as overseas students: Intercultural communication as identity negotiation of Indonesian Ph.D. Muslim women students in the United States. Journal of Ethnic and Cultural Studies, 9(2), 66–80. https://doi.org/10.29333/ejecs/1094
Aryani, D. I., Setiawan, K. F. R., & Natanael, I. N. (2021). The “Awal Mula Peh Cun di Tangerang”: An animated film about acculturation of Chinese Culture Fort in Tangerang. Journal of Games, Game Art, and Gamification, 6(1), 21–26. https://doi.org/10.21512/jggag.v6i1.7503
Atfal, F. R., Sari, R., & Paramitha, N. A. (2025). Mencipta harmoni dalam dominasi: Habitus Cina Benteng di permukiman Kalipasir Tangerang. Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi, 14(3), 146–156. https://doi.org/10.21831/dimensia.v14i3.81722
Dorjee, T. (2020). Understanding intergroup conflict complexity: An application of the socioecological framework and the integrative identity negotiation theory. Negotiation and Conflict Management Research, 13(3), 244–262. https://doi.org/10.1111/ncmr.12190
Malik, A., Putri, L. D., Putri, S. N., & Hartani, H. S. (2022). Identity negotiation of Cina Benteng community in building tolerance. Journal of Governance, 7(2), 363–369. https://doi.org/10.31506/jog.v7i2.15082
Qodariah, L., & Rahmawati, M. (2021). Festival Peh Cun: Pesta musim kemarau masyarakat Tionghoa di Kota Tangerang. Haluan Sastra Budaya, 5(1), 21–37. https://doi.org/10.20961/hsb.v5i1.44586
Putri, L. D., Malik, A., Putri, S. N., & Hartani, H. S. (2022). Social change-based identity negotiation: Case of “Cina Benteng” and indigenous community in Kalipasir Tangerang, Banten. JSW (Jurnal Sosiologi Walisongo), 6(2), 173–188. https://doi.org/10.21580/jsw.2022.6.2.11570
Sasongko, M. H., Harwanto, D. C., & Kristanto, A. (2022). Makna dibalik tambur Peh Cun dalam masyarakat Tionghoa Benteng: Sebuah analisis kultural berdasarkan teori Yin-Yang. Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik, 4(2), 62–75. https://doi.org/10.24036/musikolastika.v4i2.89
Srikandi, M. B., Pawito, & Rahmanto, A. (2021). Cultural identity negotiation of Javanese-Muslim settlers with indigenous Balinese-Hindus: A study of intercultural communication strategies. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 8(1), 24–31. https://doi.org/10.18415/ijmmu.v8i1.2210
Winata, M. D., Wahyuni, J., Setiadi, T., Aji, G. G., & Akhisar, I. (2023). Interpretting intercultural communication approach of Indonesian diaspora in Turkiye. Profetik: Jurnal Komunikasi, 16(1), 5–21.
Yunita, K., Setyari, E. P., & Safitri, F. (2022). Cultural identity negotiation as a form of conflict management: A study of intercultural communication strategies in Batak-Chinese marriage. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 9(1), 24–31. https://doi.org/10.18415/ijmmu.v9i1.3564
Referensi Metodologi
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S. (Eds.). (2018). The SAGE handbook of qualitative research (5th ed.). SAGE Publications.
Hammersley, M., & Atkinson, P. (2019). Ethnography: Principles in practice (4th ed.). Routledge.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Downloads
Published
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2026 Tia Nurapriyanti, Widhia Seni Handayani, Sello Satrio

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
Authors are copyright holders and maintain author rights in accordance with the Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0) or comparable license. While holding these rights, authors grant the JETISH: Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health (publisher of JETISH) a non-exclusive right to the first publication of their articles, including abstracts. This enables us to ensure full copyright protection and to disseminate the article to the widest possible readership in electronic format. Authors are themselves responsible for obtaining permission to reproduce copyright material from other sources.










