Pengaruh Complacency terhadap Budaya Keselamatan pada Personel Perawatan Pesawat Udara di PT Airfast Indonesia

Authors

  • Izza Deriyant Haq Politeknik Penerbangan Indonesia Curug, Indonesia
  • Bhima Shakti Arrafat Politeknik Penerbangan Indonesia Curug, Indonesia
  • Bela Firmantoyo Politeknik Penerbangan Indonesia Curug, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.57235/jetish.v5i2.9196

Keywords:

Complacency, Budaya Keselamatan, Perawatan Pesawat Udara, Regresi Kuantil, Faktor Manusia

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat complacency, mengevaluasi tingkat budaya keselamatan, serta menganalisis pengaruh complacency terhadap budaya keselamatan pada personel perawatan pesawat udara di PT Airfast Indonesia. Rutinitas kerja maintenance yang berulang dan berjangka panjang berpotensi memicu complacency, yaitu penurunan kewaspadaan akibat rasa percaya diri berlebih, yang berisiko melemahkan budaya keselamatan organisasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif kausal terhadap 69 personel (teknisi dan engineer) yang dipilih secara purposive sampling. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner Skala Likert 1–5 yang telah diuji validitas (Product Moment Pearson) dan reliabilitas (Cronbach’s Alpha), menghasilkan 14 butir valid untuk variabel complacency dan 18 butir valid untuk variabel budaya keselamatan. Karena data tidak berdistribusi normal (uji Kolmogorov-Smirnov), pengujian pengaruh dilakukan melalui regresi kuantil pada kuantil median (q=0,5) yang dikonfirmasi oleh uji korelasi Rank Spearman. Hasil analisis deskriptif menunjukkan tingkat complacency berada pada kategori Rendah (mean = 2,05), sementara tingkat budaya keselamatan berada pada kategori Sangat Tinggi (mean = 4,26). Uji Spearman menghasilkan koefisien korelasi -0,472 (Sig. < 0,001), dan regresi kuantil menghasilkan koefisien -0,346 dengan Sig. = 0,003 (95% CI -0,572 s.d. -0,121), membuktikan bahwa complacency berpengaruh negatif dan signifikan terhadap budaya keselamatan, dengan kontribusi (Pseudo R-Squared) sebesar 12,5%. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan complacency sekecil apa pun berdampak langsung pada penurunan budaya keselamatan, sehingga PT Airfast Indonesia direkomendasikan menerapkan program anti-complacency yang terstruktur, sistem double-inspection pada tugas repetitif, dan rotasi penugasan berkala.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Bandura, A. (1986). Social foundations of thought and action: A social cognitive theory. Prentice-Hall.

Federal Aviation Administration (FAA). (2012). Aviation maintenance technician handbook – General (FAA-H-8083-30A)

FAA. (2023, Juni 5). Human factors in aviation maintenance.

Ghozali, I. (2018). Aplikasi analisis multivariate dengan program IBM SPSS 25 (9th ed.). Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

ICAO. (2018). Doc 9859 safety management manual.

ICAO. (2020). Doc 9760 airworthiness manual.

Key, K. N., Choi, I., Hu, P. T., & Schroeder, D. J. (2023). Validating a safety culture toolkit for aviation maintenance. Federal Aviation Administration.

Koenker, R., & Bassett, G. (1978). Regression quantiles. Econometrica, 46(1), 33–50.

Koenker, R., & Hallock, K. F. (2001). Quantile regression. Journal of Economic Perspectives, 15(4), 143–156.

Mellema, G. M., Esser, D. A., Frisinger, S. L., Cuevas, H. M., & Conway, B. (2021). Application of DuPont’s Dirty Dozen framework to commercial aviation maintenance incidents. International Journal of Aviation Research, 13(1), 14–30.

Reason, J. (2016). Managing the risks of organizational accidents. Routledge.

SKYbrary. (2025). The human factors “dirty dozen.”

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Tyagi, A., Tripathi, R., & Bouarfa, S. (2023). Safety management system and hazards in the aircraft maintenance industry: A systematic literature review. Aviation, 27(3), 212–224.

Downloads

Published

2026-09-12

Citation Check