Analisis Persepsi Masyarakat terhadap KLB dalam Upaya Preventif Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Tuntungan Tahun 2025

(1) * Susilawati Susilawati Mail (Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia)
(2) Rahmayani Rahmayani Mail (Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia)
(3) Marwah Naila Maharani Mail (Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia)
(4) Siti Aisyah Sinaga Mail (Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia)
*corresponding author

Abstract


Penelitian ini dibuat untuk melihat bagaimana masyarakat Wilayah Tuntungan, Medan, memandang Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD) dan apa saja cara yang mereka lakukan untuk mencegahnya pada tahun 2025. Menurut informan 1 dkk (tahun 2025), daerah ini sering mengalami kasus DBD (disebut daerah endemis) dan jumlah kasusnya naik turun terus, oleh karena itu penting untuk memahami bagaimana masyarakat merespons saat ada wabah DBD. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengadakan wawancara mendalam dan melihat langsung kondisi di lapangan, dengan bertanya kepada warga masyarakat, kader kesehatan, dan tokoh masyarakat; cara kerja ini sama seperti yang dilakukan dalam penelitian serupa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat sangat khawatir dengan KLB DBD, terutama khawatir akan dampaknya pada anak-anak, dan mereka mengira penyebab utama DBD adalah lingkungan yang kotor dan kondisi cuaca. Masyarakat merasa bahwa fogging (semprotan untuk membunuh nyamuk) efektif untuk mencegah DBD, tapi cara mencegah yang disebut 3M Plus (menguras tempat yang ada air, menutup wadah yang bisa jadi sarang nyamuk, mengubur barang bekas) masih jarang dilakukan karena banyak orang sibuk bekerja, kurang memiliki alat yang diperlukan, dan informasi tentang risiko DBD dari dinas kesehatan belum sampai dengan baik. Penyuluhan kesehatan yang ada dirasa kurang menarik dan jarang dilakukan, sementara itu informasi dari media sosial seringkali tidak benar (hoaks) dan membuat orang panik, namun tokoh masyarakat berperan sangat penting karena mereka dipercaya oleh masyarakat dan bisa membantu menyampaikan informasi yang benar serta menghentikan penyebaran berita bohong. Hasil penelitian ini sama dengan yang dilakukan Dameria Gultom (tahun 2018) yang mengatakan bahwa semakin banyak orang tahu tentang DBD, semakin baik pula tindakan pencegahannya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah untuk mencegah DBD dengan baik di Tuntungan, diperlukan cara kerja yang menyeluruh di antaranya adalah memberikan pendidikan yang kreatif dan menarik, menyediakan alat pencegahan yang mudah digunakan, memperkuat peran tokoh masyarakat, mengelola informasi di dunia digital dengan baik, dan mengajak semua orang di komunitas untuk bekerja sama melalui gotong royong. Penelitian ini diharapkan bisa membantu membuat program kesehatan masyarakat yang sesuai dengan kondisi lokal dan berdasarkan fakta, untuk mengatasi wabah DBD di daerah perkotaan.


Keywords


Persepsi Masyarakat, KLB DBD, Upaya Preventif, 3M Plus, Komunikasi Risiko, Penyuluhan Kesehatan, Media Sosial, Tokoh Masyarakat, Partisipasi Komunitas

   

DOI

https://doi.org/10.57235/jetish.v5i1.7791
      

Article metrics

10.57235/jetish.v5i1.7791 Abstract views : 0 | PDF views : 0

   

Cite

   

Full Text

Download

References


Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179–211. https://doi.org/10.1016/0749-5978(91)90020-T

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa

Gould, E. A., & Rainwater, C. R. (2010). Control of dengue virus transmission: Current strategies and future directions. Tropical Medicine & International Health, 15(4), 412– 422.

Gultom, D. (2018). Hubungan pengetahuan masyarakat dengan perilaku pencegahan demam berdarah dengue. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 13(2), 145–152.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman pencegahan dan pengendalian demam berdarah dengue. Kemenkes RI.

Nasution, I. S., et al. (2025). Situasi epidemiologi demam berdarah dengue di Kecamatan Medan Tuntungan. Laporan Dinas Kesehatan Kota Medan.

Nugroho, M. E., et al. (2024). Persepsi risiko dan perilaku pencegahan demam berdarah dengue di wilayah perkotaan. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 19(1), 55–63.

Pangesti, N. A., et al. (2024). Pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan pencegahan DBD. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 15(2), 101–109.

Reynolds, B., & Seeger, M. W. (2005). Crisis and emergency risk communication as an integrative model. Journal of Health Communication, 10(1), 43–55. https://doi.org/10.1080/10810730590904571

Rosenstock, I. M. (1966). Why people use health services. The Milbank Memorial Fund Quarterly, 44(3), 94–127.

Van der Velden, P. G., et al. (2014). Social media and mental health during crises. Journal of Anxiety Disorders, 28(2), 198–206. https://doi.org/10.1016/j.janxdis.2013.12.005

World Health Organization. (2021). Dengue and severe dengue. WHO.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2026 Susilawati Susilawati, Rahmayani Rahmayani, Marwah Naila Maharani, Siti Aisyah Sinaga

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.