Menghadapi Penderitaan dengan Kebijaksanaan dalam Ajaran Buddhis

Authors

  • Yanti Yanti Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga, Indonesia
  • Putriana Putriana Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga, Indonesia
  • Partono Partono Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.57235/jclhr.v1i2.5228

Keywords:

Penderitaan, Kebijaksanaan

Abstract

Penderitaan (dukkha) yang mendasar dalam ajaran Buddha yang mencakup semua bentuk ketidakpuasan dan kesulitan dalam hidup manusia. Dalam ajaran Buddha, penderitaan bukan hanya dilihat sebagai hal yang harus dihindari, tetapi juga sebagai jalan pembelajaran yang dapat membawa individu menuju kebebasan dan pencerahan. Ajaran Buddha mengajarkan bahwa kebijaksanaan (prajña) adalah kunci untuk mengatasi penderitaan dengan memahami hakikat ketidakkekalan, penderitaan itu sendiri dan ketidakadaan diri. Penelitian ini membahas bagaimana ajaran Buddha mengarahkan umatnya untuk menghadapi penderitaan dengan kebijaksanaan, serta bagaimana penerapan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari dapat mengurangi penderitaan dan membawa kedamaian batin yang datanya dari jurnal yang terkait pada tahun 2019 ke 2024. Metode yang digunakan dalam penelitian ini Metode Systematic Literature revive (SRL). metode SRL di gunakan untuk SRL ini bertujuan untuk menggali secara lebih mendalam konsep-konsep utama dalam ajaran Buddha yang berkaitan dengan penderitaan dan bagaimana kebijaksanaan dapat digunakan untuk menghadapinya. Penderitaan (dukkha) merupakan salah satu topik utama dalam ajaran Buddha, dan berbagai literatur menunjukkan bahwa penderitaan berasal dari ketidakpahaman terhadap sifat dasar kehidupan dan keterikatan pada hal-hal duniawi.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Bedjo. Penderitaan Menurut Agama Buddha: Sebuah Tinjauan Kritis Dari Perspektif Kristen, Veritas, 2006.

Bodhi, Bhikkhu. The Noble Eightfold Path: A Practice for Living in the World (1994).

Buddhaghosa. The Path of Purification (Visuddhimagga), diterjemahkan oleh Bhikkhu Ñāṇamoli (1999).

Huston, James. Buddhism for Beginners (2003).

Bodhi, Bhikkhu. The Noble Eightfold Path: A Practice for Living in the World (2024). Buddhist Publication Society.

Wallace, B. Alan. The Buddhist Path to Awakening (2001). Wisdom Publications.

ahyono, B. (2016). Korelasi Pemecahan Masalah dan Indikator Berfikir Kritis. Phenomenon : Jurnal

Pendidikan MIPA, 5(1), 15–24. https://doi.org/10.21580/phen.2015.5.1.87

D.I. (n.d.). Dīgha Nikāya. 2009.The Long Discourses of the Buddha A Translation of the Dãgha

Nikàya by Maurice Walshe.Team DhammaCitta Press.

Erfan, N. F. (2018). Pengaruh Komunikasi Interpersonal Dan Smk Al Ikhwaniyah Tangerang

Selatan. Pustaka Komunikasi,

Indah, Martin; Damayanti, M. I. (2013). Penerapan Genius Learning Strategy Untuk Meningkatkan

Thanisaro, Hidup bukan hanya Penderitaan, Yogyakarta, Vidyāsenā Production. 2011.

Dhammananda, Sri, Kehidupan Tidak Pasti Namun Kematian Itu Pasti. 2022

Yun, Hsing. Karakteristik dan Esensi Agama Budha”, Yayasan Penerbit Karaniya, 1994.

Gunaratana, Bhante Henepola. Mindfulness in Plain English (1991).

Nhat Hanh, Thich. The Heart of the Buddha's Teaching (1998).

Harris, Ian. Buddhism: A Very Short Introduction (2021).

Sarma, Kashi. An Introduction to Buddhist Philosophy (2023).

Downloads

Published

2026-03-12

How to Cite

Yanti, Y., Putriana, P., & Partono, P. (2026). Menghadapi Penderitaan dengan Kebijaksanaan dalam Ajaran Buddhis. Journal of Constitutional, Law and Human Rights, 1(2), 112–117. https://doi.org/10.57235/jclhr.v1i2.5228

Citation Check