Penghormatan Orang Meninggal Saur Matua: Suatu Tinjauan Dogmatis Terhadap Pelaksanaan Roto Gajah Lumpat Ditengah Masyarakat Angkola yang Berada di Desa Sumber Melati Diski dan Implikasihnya Terhadap Kehidupan Jemaat di GKPA Parlagutan Diski

Authors

  • Mutiara Esflina Matondang Sekolah Tinggi Teologi Abdi Sabda Medan, Indonesia
  • Pardomuan Munthe Sekolah Tinggi Teologi Abdi Sabda Medan, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.57235/motekar.v4i1.8462

Keywords:

Masyarakat Angkola, Roto Gajah Lumpat, GKPA, Teologi Kontekstual

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menegaskan bahwa pelaksanaan Roto Gajah Lumpat adalah tanda penghormatan terakhir kepada orang tua yang telah meninggal dunia, khususnya bagi yang telah mencapai saur matua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui wawancara dan kuantitatif dengan penyebaran dengan pendekatan dogmatis teologis dan penyebaran angket kepada jemaat GKPA Parlagutan Diski di Desa Sumber Melati Diski, Kecamatan Sunggal. Hasilnya mayoritas masyarakat memandang Roto Gajah Lumpat sebagai bentuk penghormatan terakhir yang penting dan masih layak dipertahankan. Maka dapat disimpulkan bahwa Roto Gajah Lumpat memiliki nilai budaya dan sosial yang kuat, tetapi pelaksanaannya harus tetap berpusat pada kemuliaan nama Allah. Untuk itu disarankan agar masyarakat dan gereja bersama-sama menjaga nilai budaya ini.

Downloads

Download data is not yet available.

References

"Tata Gereja dan Tata Laksana Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA)," GKPA WordPress, https://gkpa.wordpress.com/2009/10/15/tata-gereja-dan-tata-laksana-gereja-kristen-protestan-angkola-gkpa/

“Sejarah GKPA.” GKPA Official Website. http://gkpa.or.id/?reff=sejarahgkpa.

Alfian Kesardi Mantondang dengan nama harajaon Sutan Panungkunan na sian Sidimpuan (40 tahun)

Amintas Siregar dengan nama harajaon baginda Sayur matua na sian Parao (63 tahun).

Berkhof, Louis. Teologi Sistematika, Vol. 1: Doktrin Allah. Surabaya: Momentum, 1993.

Berkhof, Louis. Teologi Sistematika, Vol. 2: Doktrin Manusia. diterjemahkan oleh Yudha Thianto, Surabaya: Momentum, 2009.

Daud Pulungan dengan nama harajaon Mangaraja Ojahan Pulungan na sian Sibadoar (58 tahun)

Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA). Pangokuon Haporsayaan dohot ruhut parmahanion pamincangon. Padang Sidimpuan: Kantor Pusat-Pusat pembinaan GKPA, 2019.

Hasil Musyawara Lembaga adat-budaya kec.Sipirok. Adat Budaya Angkola Sipirok Haruaya mardomu bulung napa-napa sibualbuali. Sipirok: Lembaga adat budaya Sipirok, 1996.

Hennilawati. Revitalisasi Istilah dalam Tradisi Perkawinan Masyarakat Angkola di Masa Covid 19. Pekalongan: PT Nasya Expanding Management, 2022.

Kennedi Rambe, gelar harajaon na sian Sunge pining (52 tahun)

Nurhaida Pasaribu dengan nama harajaon Boru Na Mora sian huta siomaoma (67 tahun)

Rasyid, Arbanur dan Lubus, Rayendriani Rahmei. Tradisi Masyarakat Angkola dalam menyembeli Kerbau di Upacara Kematian, Jawa barat: CV. Adanu Abimata, 2021.

Risdo Sampetua Purba, Perubahan Upacara Gajah Lumpat: Pengorbanan Manusia Kepada Mula Jadi Nabolon (Menguak Fakta Budaya di Sipirok), https://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/61656/9/3203121041_BAB_I.pdf

Wimbodo Purnomo, "Ritual Brobosan Sebagai Penghormatan Terakhir dalam Liturgi Pemakaman Jawa-Kristiani," Jurnal Melintas 33, no. 2 (2017): 208.

Downloads

Published

2026-05-25

How to Cite

Mutiara Esflina Matondang, & Pardomuan Munthe. (2026). Penghormatan Orang Meninggal Saur Matua: Suatu Tinjauan Dogmatis Terhadap Pelaksanaan Roto Gajah Lumpat Ditengah Masyarakat Angkola yang Berada di Desa Sumber Melati Diski dan Implikasihnya Terhadap Kehidupan Jemaat di GKPA Parlagutan Diski. Jurnal Multidisiplin Teknologi Dan Arsitektur, 4(1), 341–354. https://doi.org/10.57235/motekar.v4i1.8462

Issue

Section

Articles

Citation Check