Rekonstruksi Makna Cinta Dalam Tradisi Sufistik: Pendekatan Semantik Terhadap Teks dan Konteks

Authors

  • Muh Al Fadhil Romadhan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia
  • Muhammad Amienulazis Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia
  • Baso Pallawagau Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.57235/qistina.v5i2.8861

Keywords:

cinta sufistik, tasawuf, semantik, maḥabbah, epistemologi spiritual, ontologi,

Abstract

Cinta (al-ḥubb) dalam tradisi tasawuf yang sering mengalami reduksi dalam pembacaan modern menjadi sekadar emosi atau simbol romantik. Padahal, dalam khazanah sufistik, cinta memiliki dimensi yang lebih luas, mencakup aspek ontologis, epistemologis, dan etis. Oleh karena itu, diperlukan upaya rekonstruksi makna cinta yang tidak hanya bertumpu pada analisis leksikal, tetapi juga mempertimbangkan konteks historis dan kultural dari teks-teks sufistik klasik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan merekonstruksi makna cinta dalam tradisi tasawuf melalui pendekatan semantik yang integratif antara teks dan konteks. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan semantik dan analisis teks (textual analysis). Sumber data utama berupa teks-teks klasik sufistik seperti Fuṣūṣ al-Ḥikam, Mathnawi, dan Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Teknik analisis dilakukan melalui identifikasi istilah kunci yang berkaitan dengan konsep cinta, kemudian dianalisis relasi maknanya dalam konteks tekstual dan historis untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna cinta dalam tasawuf mengalami transformasi dari dimensi emosional menuju dimensi ontologis sebagai prinsip kosmik yang mendasari keberadaan. Selain itu, cinta juga berfungsi sebagai jalan spiritual yang terstruktur dalam maqāmāt dan aḥwāl, serta memiliki keterkaitan erat dengan konsep ma‘rifah dan fanā’. Analisis kontekstual mengungkap adanya perbedaan ekspresi cinta antara tradisi Arab yang cenderung normatif dan Persia yang lebih simbolik dan puitis. Rekonstruksi makna menunjukkan bahwa cinta dalam tasawuf dapat dipahami sebagai energi ontologis, epistemologi spiritual, dan etika transformatif. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa cinta dalam tradisi sufistik bukan sekadar emosi, melainkan struktur makna yang kompleks dan multidimensional yang mencakup aspek ontologis, epistemologis, dan etis secara simultan. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan studi tasawuf melalui integrasi pendekatan semantik dan analisis kontekstual, serta membuka peluang bagi kajian lanjutan yang lebih interdisipliner dalam memahami konsep cinta dalam Islam.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Al-Ghazali. (2010). Iḥyā’ ‘ulūm al-dīn (Rev. ed.). Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Bulan, A. (2019). Pendekatan semantik Toshihiko Izutsu dalam studi Al-Qur’an. Jurnal

Studi Al-Qur’an, 15(2), 201–215.

Chittick, W. C. (1989). The Sufi path of knowledge: Ibn al-‘Arabi’s metaphysics of

imagination. State University of New York Press.

Chittick, W. C. (2005). The Sufi doctrine of Rumi. World Wisdom.

Ernst, C. W. (1997). The Shambhala guide to Sufism. Shambhala Publications.

Ernst, C. W. (2011). Sufism: An introduction to the mystical tradition of Islam. Shambhala

Publications.

Izutsu, T. (2002). Ethico-religious concepts in the Qur’an. McGill-Queen’s University

Press.

Knysh, A. (2017). Sufism: A new history of Islamic mysticism. Princeton University Press.

Lazulfa, M., & Munir, A. (2022). Analisis semantik konsep cinta dalam Al-Qur’an

perspektif Izutsu. Jurnal Riset Agama, 2(1), 89–102.

Lewisohn, L. (Ed.). (2014). The philosophy of ecstatic love: The Persian Sufi tradition.

I.B. Tauris.

Lubabul, A., et al. (2024). Love and spirituality in Islamic mysticism: Reinterpretation of

Al-Ghazali’s thought. Journal of Contemporary Islamic Thought, 8(1), 45–60.

Lumbard, J. E. B. (2007). From ḥubb to ‘ishq: The development of love in early Sufism.

Journal of Islamic Studies, 18(3), 345–368.

Nasr, S. H. (2007). The garden of truth: The vision and promise of Sufism, Islam’s

mystical tradition. HarperOne.

Ridgeon, L. (2020). Sufism: A critical introduction. Wiley-Blackwell.

Rustom, M. (2012). The triumph of mercy: Philosophy and scripture in Mulla Sadra.

State University of New York Press.

Schimmel, A. (1975). Mystical dimensions of Islam. University of North Carolina Press.

Suharto, S. (2022). The concept of love in Sufism: A semantic approach. Journal of

Islamic Philosophy, 10(2), 77–95.

Syahfitri, N., & Santalia, I. (2023). Konsep mahabbah dalam perspektif Al-Ghazali.

International Journal of Islamic Studies, 5(2), 120–135.

Kamil, Iskandar, 2014, Pedoman Perilaku Hakim Kode Etik Hakim dan Makalah Berkaitan, Jakarta: Mahkamah Agung RI

Downloads

Published

2026-07-28

How to Cite

Muh Al Fadhil Romadhan, Muhammad Amienulazis, & Baso Pallawagau. (2026). Rekonstruksi Makna Cinta Dalam Tradisi Sufistik: Pendekatan Semantik Terhadap Teks dan Konteks. QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia, 5(2), 72–82. https://doi.org/10.57235/qistina.v5i2.8861

Citation Check